Aku pernah mendengar siaran seorang penyiar radio favoritku di Yogya (sayang sekali dia sudah tidak siaran), katanya-dia mengutip Kahlil Gibran-ada tiga derajat cinta. Yang pertama kau mencintai seseorang karena kelebihan orang itu, yang kedua kau mencintai seseorang meskipun dia punya kekurangan-artinya ada toleransi, dan yang terakhir dan ini derajat yang paling tinggi, kau tidak tahu kenapa mencintai seseorang, kau hanya merasa sayaaaang aja sama dia.
Berdasarkan tiga derajat itu aku mencoba mengamati orang-orang di sekitarku, termasuk derajat keberapa cinta mereka. Yang pertama menjadi korban pengamatanku adalah Najma (lebih tepatnya sih laki-laki di sekeliling Najma). Kalau kau para lelaki membaca deskripsiku tentang Najma, aku jamin kalian akan jatuh cinta setengah mati sama dia. Secara fisik dia cantik, bahkan sangat cantik menurutku, tinggi langsing dengan kulit putih mulus (awas, ada yang mulai ngiler tuh!), dia ramah dan sangat rendah hati, pintar menghargai diri sendiri dan orang lain, pandai membawa diri dan sangat bijaksana. Cowok mana coba yang tidak klepek-klepek berhadapan sama dia...coba tunjuk jari!
Dengan berbagai kelebihannya itu tidak heran banyak lelaki yang mendekatinya. Sejak menjadi sahabatnya waktu masih kuliah dulu, aku sampai tidak bisa menghitung berapa cowok yang sudah proklamasi sama dia, belum lagi yang merayu-rayu aku untuk nyomblangin, itu juga belum termasuk yang menjadi secret admirernya. Dan menurutku cowok-cowok itu termasuk pemilik derajat cinta yang pertama karena mereka kebanyakan tertarik pada Najma karena berbagai kelebihannya. Kalaupun akhirnya ada di antara mereka yang naik jadi derajat kedua atau ketiga aku tidak tahu karena nyatanya tidak ada satu pun di antara mereka yang diterima cintanya oleh Najma. Kau tahu kenapa? Karena Najma masih belum siap mengulang "tragedi cintanya" dengan Ical.
Menurutku, Ical itu cowok paling bodoh sedunia, ya kalau terlalu luas se-Yogya ajalah! Mati-matian dia pedekate ke Najma sampai akhirnya Najma menerima cintanya. Baru Jalan setahun, Ical sudah mulai berubah, sering marah-marah gak jelas dan cemburuannya minta ampun. Harusnya dia tahu dong ya, kalau perempuan sejenis Najma itu memang banyak penggemarnya. Setahuku Najma juga tidak suka tebar pesona, si pesona itu sendiri yang menebar ke mana-mana. Buktinya, kalau kita lagi jalan sering dia itu masih terheran-heran sendiri kalau banyak orang-terutama kaum Adam-yang memperhatikan dirinya (pokoknya beda bangetlah sama Echy yang suka tepe-tepe itu, dan juga beda sama aku yang kadang-kadang merasa sok kecakepan sendiri).
"Lin, gigiku ada seledrinya ya, kok orang itu ngeliatin aku sih?" tanya Najma suatu ketika waktu kita lagi makan di warung soto "Sabar Menanti".
"Bajuku aneh ya?" ini pertanyaan standar Najma kalau lagi jalan ke Mall dan banyak mata laki-laki memperhatikan dirinya.
Tentang Najma dan Ical nantilah suatu saat kalau aku sempat dan kalau aku ingat akan aku ceritakan di bagian tersendiri. Yang bisa aku ceritakan sekarang adalah, aku masih belum mengerti, di mana-mana orang putus itu biasanya karena ada salah satu pihak atau dua-duanya yang tidak bisa menerima kekurangan pasangannya. Lha ini, kenapa justru karena Ical tidak bisa menerima berbagai kelebihan Najma? Kalau begitu, termasuk derajat keberapakah cinta Ical, turun ke derajat nol kah? Kalau kasus yang beginian, kayaknya Kahlil Gibran gak ikut-ikutan deh!
Baiklah, kita akan lanjutkan pengamatanku pada pemilik derajat cinta kedua. Kalau yang ini, banyak banget contohnya, biasanya sih pasangan yang sudah berhasil melewati tahap penyesuaian karakter masing-masing. Mereka sudah bisa mentolerir kelemahan pasangannya, gak cuma mau terima enaknya aja.
Mmm...kayaknya paling enak mengamati orang yang punya banyak kebiasaan jelek kali ya? Kayak Beben misalnya (sori, Ben...bukannya balas dendam karena kebiasaanmu yang suka memojokkan aku!). Santi, mantan pacar Beben itu sebenarnya sudah bisa menerima Beben apa adanya, tapi Bebennya sendiri yang gak pengertian banget. Masak iya sih memanfaatkan "kepasrahan" Santi dengan bersikap seenaknya sendiri?
Kalau kebiasaan "amnesia" laki-laki seperti tidak ingat tanggal ulang tahun atau tanggal jadian sih sudah jadi rahasia umum. Lha kalau Beben itu amnesianya udah kebangetan. Pernah dia nganter Santi kuliah sore dan janji mau jemput, sampai malam dia belum jemput karena lagi asyik main PS sama temen-temennya. Kebayang kan, gimana deg-degannya santi harus nungguin di Fakultas Peternakan yang di UGM itu letaknya paling ujung dan deket sama lembah yang gelap dan sepi yang waktu itu terkenal rawan? Akhirnya Santi harus ngalah pulang minta anter temennya yang kos di Klebengan.
Kalau kejadian seperti itu hanya sekali dua kali sih gak masalah ya, tapi ternyata toleransi Santi juga ada batasnya. Terlalu sering mengalah dengan sikap Beben juga tidak baik untuk kelanjutan hubungan mereka. Kapan dong Beben akan belajar jadi laki-laki yang lebih bertangung jawab? Sementara Santi adalah tipe orang yang cenderung menghindari konflik, gak mau ribut karena masalah-masalah sepele.
Nah, Santi yang pernah mencapai derajat cinta kedua pun akhirnya rela turun ke derajat pertama, kebayang kan betapa susahnya mencapai derajat cinta ketiga? Tentang derajat yang ini, ah...siapa ya korban pengamatanku kali ini? Butuh pengamatan ekstra kayaknya, perlu jeli memperhatikan bahasa tubuh, perlu...
"Lin...kamu denger Mama nggak sih?" suara Mama lembut tapi cukup mengagetkan aku.
"Ya, Ma...?" tanyaku, merasa bersalah karena membiarkan Mama bicara sendiri, kayak di sinetron-sinetron itu.
"Jam segini Papa kok belum pulang ya? Mana hujan lagi...," kata Mama sambil berjalan ke arah jendela dan mengintip keluar dari balik gorden. Wajah cantiknya terlihat tegang.
"Kenapa gak ditelpon aja, Ma?"
"Sudah, tapi gak aktif...," suara Mama terdengar makin cemas.
"Kali aja baterenya abis, Ma, atau...jangan-jangan dijual Ma, HPnya, hi hi...," kataku berusaha menenangkan Mama.
"Kamu ini...," tegur Mama.
Tiba-tiba muncul ideku untuk interview Mama tentang perasaan cintanya sama Papa. Tentu saja setelah aku menelepon Mas Abiem, kakakku yang lagi keluar untuk lewat jalan yang biasa dilalui Papa, ya biar Mama sedikit tenang.
"Ma...Mama dulu kan dijodohin, kok bisa cinta banget gitu sih sama Papa?"
Mama memandangku lama sekali. Lalu ia tersenyum dan mengulurkan tangannya, isyarat agar aku mendekat ke pelukannya. Ini kebiasaannya kalau lagi pengen ngomong serius atau menceritakan masa lalu.
"Cinta itu seperti tanaman, inget kan kamu pernah nulis cerpen tentang itu? Semua tergantung kita, mau merawat tanaman itu atau membiarkannya kering lalu akhirnya mati," kata Mama mengingatkan aku.
"Ya, kalo itu sih semua orang juga tahu, Ma, dan hampir semua orang bisa melakukannya."
"Nah, kalo kebanyakan orang mendapatkan tanaman yang sudah tumbuh, Mama dan papa ibaratnya cuma dikasih biji, jadi kami harus sabar menunggu biji itu tumbuh, lalu merawatnya sampai akhirnya berbuah. Nah, ini salah satu buahnya yang manis," kata Mama sambil memelukku erat. Ada kehangatan yang mengalir di tubuhku, membuat hatiku dipenuhi perasaan haru.
Ah, Mama...pasti butuh usaha yang luar biasa untuk merawat cinta itu hingga makin dalam, sampai detik ini. Aku tidak yakin punya cukup energi untuk menumbuhkan dan merawat cinta seperti itu jika berada di posisi seperti kalian ketika menikah dulu.
Hampir terlelap aku di pelukan Mama ketika tiba-tiba di antara suara derasnya hujan terdengar suara motor di luar. Itu suara motor Mas Abiem! Mama bergegas keluar, aku menyusul di belakang. Papa dan Mas Abiem yang setengah basah langsung disambut pertanyaan betubi-tubi dari Mama. Dengan sabar Papa menjelaskan kalau mobilnya mogok di Jalan Kusumanegara, lalu batere HPnya memang habis,lalu bla bla bla...aku tidak berminat mendengarkan lagi karena aku sedang asyik mengamati wajah Mama yang lega tapi khawatir dengan keadaan Papa saat ini, takut tubuh yang mulai renta itu jadi sakit karena kehujanan. Aku juga suka melihat wajah Papa yang seakan merasa bersalah karena sudah membuat Mama khawatir. Ah, indahnya...
"Heh, bengong aja! Bikinin kopi panas napa?" tegur Mas Abiem.
Seperti kerbau dicocok pantatnya aku ngeloyor ke dapur. Di tempat ini lagi-lagi aku teringat kebersamaan Mama dan Papa. Ingat saat Mama sakit dan Papa dengan telaten membujuk dan menyuapi Mama.
Jadi ingat nasehat Bang Zaitun untuk Arai yang lagi jatuh cinta sama Zakiah di novel "Maryamah Karpov"nya Andrea Hirata.
"...cukup kau tunjukkan raut muka bahwa kau bersedia menyuapinya nanti jika ia sakit, bersedia menggendongnya ke kamar mandi jika ia sudah renta tak mampu berjalan. Bahwa kau, dengan segenap hatimu, bersedia mengatakan di depannya betapa jelitanya ia, meski wajahnya sudah keriput seperti jeruk purut, dan kau bersedia tetap berada di situ, tak ke mana, di sampingnya selalu, selama empat puluh tahun sekalipun..."
Mataku berkaca-kaca. Detik ini juga, suka atau tidak suka, aku umumkan : Mama Papaku adalah pemilik derajat cinta ketiga, dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi!
New Day..
2 bulan yang lalu