Selasa, 29 September 2009

MENGEJAR LAYANG-LAYANG PUTUS

Echy masih mondar-mandir kayak setrikaan (setrika uap lagi, soalnya sambil ngomel-ngomel gak jelas gitu),dengan gaya yang diulang-ulang entah berapa kali aku tidak bisa menghitungnya. Lihatlah, gayanya seperti artis sinetron yang lagi nungguin pacarnya yang gak datang-datang. Tangan memencet-mencet HP, lalu menempelkannya di telinga, memencet-mencet HP lagi lalu sambil menghentak-hentakkan kaki keluarlah umpatan-umpatan kecil dari mulutnya.

Beben yang lagi asyik ngobrol soal KPK sama Alvin dan Najma kelihatannya agak terganggu dengan tingkah Echy, aku sih agak terganggu juga tapi masih bisa menikmati "Perahu Kertas"nya Dee yang sedang aku baca. Dan Echy sepertinya lupa, kalau Beben sedang ngomong politik atau bola, itu artinya tidak boleh ada yang mengganggu.

"Kamu nelpon siapa sih, Chi?" tanya Beben sengit.
"Gak tahu nih, si Pramu dari kemaren ditelpon gak diangkat mulu...!" sahut Echy masih mencet-mencet HP sambil menghentak-hentakkan kaki. Padahal ya, tuh kaki pakai sepatu kebanggaan Echy yang haknya segede gambreng, yang kalau nginjek kaki jempolnya bisa jadi segede biji duren. Duuh...kalau si Mimi kucing kesayangan Mama lewat situ bisa keinjek jadi pindang deh...!

"Si Pramuka lagi kemping kali...!" aku menyahut tanpa mengalihkan mata dari novelku, tapi dari sudut mata sempat kulihat Echy yang merengut keki.
"Dia males ngangkat kali, Chi...habis kamu keseringan nelpon kayaknya," kata Alvin, dalam hati aku iyakan.

Seperti yang pernah aku bilang, aku agak khawatir dengan sikap Pramu ketika pertama kali ketemuan sama Echy. Dan apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Selama hampir dua bulan ini Pramu tidak pernah berinisiatif untuk menelepon atau SMS, seringnya Echy yang SMS atau telpon duluan.

Aku sering bilang sama Echy untuk mengambil sikap tarik ulur seperti orang main layangan itu, tapi dia selalu tidak tahan untuk tidak menelepon atau SMS Pramu. Jadi apa yang dibilang Alvin itu mungkin ada benarnya juga, Pramu jadi malas ngangkat telepon dari Echy.

Dan percaya atau tidak, baru dua kali sejak pertemuan pertama itu mereka ketemu lagi. Itu juga karena Echy yang merengek-rengek ngajakin Pramu ketemuan. Aku nggak tahu, Echy jadi nggak sensi gitu karena telanjur tergila-gila sama Pramu atau ia telanjur malu karena sudah proklamasi ke semua orang bahwa Pramu adalah calon suami-atau istilahnya Echy, lelaki yang dikirimkan Tuhan untuknya.

"Pramu lagi meeting kali, Chi...maklum, orang sibuk kan?" kata Najma berusaha menenangkan Echy.
"Masak jam 6 pagi meeting, jam 12 pas istirahat makan juga gak diangkat, sore jam 5 juga, jam satu pagi...apa dia juga masih meeting?" jawab Echy masih dengan gaya nyolotnya, sekarang plus gaya manyun.
"Hah, niat banget sih kamu ngejar si Pramu? Pantes aja dia males ngangkat, kamu nelpon dia kayak orang neror gitu. Trus kamu telponnya cuma nanya lagi di mana, sudah makan atau belum, lagi sibuk nggak, ya kan?" cerca Beben. You damn right, Ben! Aku yang sering jadi saksi bisu usaha Echy menarik perhatian Beben.

Hmm...saksi bisu? Tidak juga sebenarnya, karena aku tidak bosan-bosannya mengingatkan Echy untuk memikirkan segala kemungkinan agar ia tidak kecewa nantinya kalau Pramu ternyata bukan pasangan hidupnya kelak.

"Ya...namanya juga usaha...," kata Echy pasrah.
"Tapi kira-kira dong, Chi usahanya, kalau salah caranya ntar malah jadi bumerang," kata Alvin. Ada nada kasihan dalam ucapannya.
"Emangnya salah ya, kalau aku pengen menunjukkan perhatian ke Pramu?" tanya Echy pelan.
"Enggak salah, sih Chi...cuma kayaknya si Pramu itu tipe lelaki yang lebih suka mengejar dari pada dikejar, jadi ya...kamu kayaknya musti sabar, jangan terlalu menunjukkan kalau kamu ngebet pengen jadi pacar atau istrinya, ntar dia ilfil lagi...," kata Beben panjang lebar. Tumben dia bisa nasehatin orang dengan suara sepelan itu, mungkin merasa kasihan sama Echy juga.

Aku sendiri juga merasa kasihan. Bayangkan, Echy yang sleepaholic bela-belain melek sampai pagi cuma buat nelpon Pramu. Ya, tapi gimana lagi, kalau Pramu memang ada rasa sama Echy, pasti dia ada usaha buat mendapatkan Echy kan?

Tentang "rasa" ini, aku tahu betul bagaimana perasaan Pramu terhadap Echy. Tapi aku harus mencari waktu yang pas untuk mengatakannya. Suatu saat Echy harus tahu bahwa ia tidak perlu buang-buang waktu dan pikiran untuk mendapatkan cinta Pramu, Echy harus sadar bahwa Pramu tidak layak untuk dikejar karena ia tak beda dengan layang-layang putus yang nyangkut di tiang listrik. Echy harus membiarkan "layang-layang" itu berada di sana tak perlu meraihnya lagi atau bahkan menengoknya lagi, biar saja ia robek diterpa angin atau dibawa terbang merpati yang hobi hinggap di tiang listrik. Dan Echy harus tahu itu segera, nggak pake lama...

Aku membuka lagi SMS yang aku terima tepat jam 12 malam, waktu anak-anak Gesamen (biar gak kepanjangan nyebut Geng Sabar Menanti) sudah pulang...

Jika alam memang bisa berbahasa
Aku ingin purnama di atas Kuta ini
Bisa kau baca dari tempatmu berdiri
Aku menuliskan sebait puisi cinta untukmu di sana


Hmm...puisi-puisi cinta yang sering aku terima yang entah kenapa tak mampu membuat hatiku bergetar ketika membacanya. Hanya seperti membaca tulisan : "Dilarang Merokok" di pom bensin atau "Jagalah Kebersihan" di toilet rumah sakit. Tapi aku juga sengaja tak menghapus SMS-SMS itu.

Echy memencet-mencet HP lagi, tidak peduli aku dan anak-anak Gesamen yang memperhatikannya dalam diam.
"Mail box ya?" tanya Najma pelan. Echy mengangguk-angguk tanpa menengok pada kami sedikit pun.
"Dia gak di sini, Chi...lagi di Bali," kataku, juga dengan suara amat pelan.
"Kok tahu?" kata-kataku sanggup membuat Echy mendongakkan kepalanya.

Aku tidak menjawab, hanya mengulurkan HPku yang sudah kubuka Inboxnya. Echy menerima dengan wajah bingung, lalu tanpa berkedip ia membaca deretan SMS di HPku. Sesekali ia mendongak dengan wajah yang mulai memerah.

"Terus aja baca yang di bawahnya," perintahku. Echy kembali menekuri HPku, kami memperhatikan wajah merahnya yang sekarang ditambah matanya yang mulai berair.

Ini pemandangan yang sudah kami duga, dan kami sudah bersiap menghadapinya. Sengaja Alvin kami perintahkan menjemput Echy,karena kami tahu bagaimana cara Echy menyetir dan kami tidak mau mengambil resiko jika membiarkan Echy pulang menyetir sendiri dalam keadaan marah.

Tiba-tiba Echy berdiri, dengan kasar ia mengembalikan HPku. Dadanya terlihat turun naik, seperti menahan sesuatu dalam dirinya yang siap-siap meledak.

"Pantes ya...kamu bilang sama aku untuk bersikap tarik ulur, dan kamu tidak pernah bersikap mendukung aku sedikit pun untuk mendekati Pramu!" kata Echy dengan napas tersengal-sengal. Matanya nanar menatapku.

Aku terperangah, juga Alvin, Najma dan Beben. Tidak menyangka Echy akan bereaksi seperti itu. Bibirku baru saja hendak mengeluarkan kata-kata pembelaan, tapi Echy tidak memberi kesempatan padaku.

"Gak nyangka ya, Lin...kita sudah bersahabat begitu lama. Tega ya kamu...," kata Echy, suaranya melemah tapi air yang keluar dari matanya semakin deras.
"Chi...aku sengaja menyimpan SMS itu untuk kutunjukkan padamu, aku pengen kamu tahu sendiri bahwa Pramu...,"
"Bahwa Pramu lebih memilih kamu dari pada aku? Bahwa kamu memang lebih menarik dari pada aku?" suara Echy kembali meninggi.
"Bukan gitu, Chi...aku tidak mungkin jatuh cinta sama Pramu...," kataku lemah.
"Sekarang mungkin tidak, tapi hanya perempuan bodoh yang menolak pesona seorang Pramu," kata Echy ketus.
"Dan bagaimana kalau aku memilih jadi perempuan bodoh itu?"
"Kamu gak usah pura-pura deh, Lin...tidak usah merasa tidak enak padaku, tidak usah merasa kasihan padaku...!"
"Chi...kamu salah paham...aku tidak...,"
"Sudahlah, Lin...Alvin, aku mau pulang!" Echy bangkit tanpa mengindahkan kata-kataku.
"Chi...," panggilku sambil bangkit untuk berusaha mencegah Echy, tapi tangan Najma menahanku, matanya memberi isyarat agar aku tidak berkata apa-apa lagi. Beben memberi isyarat agar Alvin segera menyusul Echy.

Hening. Najma dan Beben tidak berkomentar, hanya memperhatikan aku yang terduduk lemas dengan air mata yang sengaja tidak kubendung.
"Kok jadi gini sih?" tanyaku,"Kalian percaya sama aku kan? Kalian percaya kan aku gak mungkin jatuh cinta sama Pramu?"

"Iya, percaya...beri Echy sedikit waktu, kalian hanya perlu waktu...," kata Najma.

Aku mengangguk. Najma dan Beben pamit pulang, mereka tahu saat ini aku hanya ingin sendiri, tidak bersama siapa pun, tidak memikirkan apa pun, bahkan tidak ingin bercakap dengan malam seperti yang biasanya aku lakukan.

Aku yakin sahabat-sahabatku akan membantuku melalui ini semua. Aku percaya pada kebijaksanaan Najma, kedewasaan Alvin dan kemampuan Beben untuk membuat masalah berat menjadi terasa ringan (meskipun kata-katanya sering terdengar "nylekit" tapi selalu ada kebenaran dalam kata-katanya).

Saat ini aku hanya ingin tidur. Tidur yang benar-benar tidur.















Jumat, 12 Juni 2009

HATI YANG TAK PERNAH TUA

Aku masih di kamar, bersiap-siap ke kantor ketika bel rumah berbunyi lalu kudengar percakapan Mama, Papa dan Mas Abiem dengan seseorang. Ramai sekali seperti pasar kaget. Siapa ya, pagi-pagi gini sudah bikin kehebohan? (lebih tepatnya sih sudah bikin Mama heboh, soalnya yang paling rame suara Mama).

Setelah menyambar tas, aku bergegas keluar untuk melepaskan rasa penasaranku. Oalah...ternyata Minto anaknya Pak Sardi, tukang ojek langganan keluarga kami. Pak Sardi itu yang dulu setia mengantar jemput aku sejak SD sampai SMP. Kalau Minto itu yang sekarang sering mengantar Mama ke pasar kalau kebetulan tidak ada orang nganggur di rumah.

"Lin...sini cepet...!" tereak Mama begitu melihatku nongol dari balik pintu, padahal baru kepalaku lho yang nongol. Heran, si Mama jadi lebay gitu kenapa ya?
"Sini...cepet...!" Mama melambai-lambaikan tangannya dengan cepat, seperti orang ketinggalan angkot.
"Pak Sardi mau nikah lagi...!" kata Mama masih dengan nada enam oktafnya.
"Hah, yang bener, Ma?" tanyaku dengan nada tujuh oktaf.
"Bener, Min?" tanyaku pada Minto dengan gaya tak kalah lebay dari Mama.
"Nggih, Mbak Alin. Besok malam Pak Arifin sekeluarga diminta datang untuk mberkahi pernikahan Bapak. Pesennya Bapak, pokoknya Mbak Alin harus datang," kata Minto dengan sopan. Kebiasaannya kalau ngomong sama kami sekeluarga sampai membungkuk-bungkuk kayak orang Jepang gitu.
"Kalo Alin nggak datang, Pak Sardi nggak jadi kawin, gitu?" goda Mas Abiem.
"Ya ndak gitu, Mas Abiem," kata Minto malu-malu.
"Bilang sama Pak Sardi ya, aku pasti datang!" kataku mantap. Padahal aku sudah janji sama anak-anak Geng Sabar Menanti untuk nonton di Amplaz. Aku tidak peduli Echy akan ngamuk-ngamuk, atau Beben akan menuduhku egois soalnya jarang-jarang kita bisa jalan dalam formasi lengkap, biasanya sih ada salah satu, salah dua atau salah tiga yang tidak bisa ikut.

Bukannya aku sok perhatian sama wong cilik seperti Pak Sardi, tapi dia itu seperti orang tua kedua bagiku. Nasehat-nasehatnya sewaktu mengantar jemput sekolah itu masih tersimpan dengan baik di memori otakku.

Aku tidak tahu kenapa waktu kecil aku tidak mau dibonceng tukang ojek lain selain Pak Sardi. Yang aku tahu hanya perasaan nyaman ketika berada dalam boncengannya. Sifat kebapakannya yang membuat aku merasa seperti itu, juga penampilannya yang selalu bersih dan rapi bahkan sedikit wangi.

Untungnya teman-teman Pak Sardi maklum dengan kelakuanku. Kalau aku sudah muncul dari gerbang rumah bersama Mama yang menggandengku, tukang ojek di pangkalan ojek "Sabar Menanti" akan melantunkan koor tanpa komando.

"Di...Sardi...anakmu...!" tereak mereka. Lalu Mama akan menaikkan aku ke boncengan, kemudian berpesan panjang lebar padaku dan pada Pak Sardi. Herannya, Pak Sardi selalu mendengarkan dengan takdzim kata-kata Mamaku sementara aku yang sudah hafal dan bosan mendengarnya berteriak-teriak agar Pak Sardi segera memacu motornya.

Saking senangnya sama Pak Sardi, sejak SD aku selalu mencium tangannya ketika turun dari motor. Itu sebabnya, Devi yang-tidak tahu kenapa-selalu memusuhiku, menyebarkan gossip kalau aku anak tukang ojek. Dan anehnya, aku tidak berminat sedikitpun untuk memukul Devi atau minimal mencubitnya. Aku diam. Kupikir waktu itu, kenapa memangnya kalau anak tukang ojek, apalagi tukang ojeknya sebaik Pak Sardi?

Dan ketika tiga tahun lalu istri Pak Sardi meninggal karena gempa, sementara Pak Sardi sendiri tulang kakinya patah dan rumahnya rata dengan tanah, aku menangis semalaman. Baru setahun belakangan ini Pak Sardi bisa berjalan normal kembali meskipun akhirnya ia tidak bisa narik ojek lagi dan sekarang digantikan Minto, anak keduanya.

Kata Minto, calon istri Pak Sardi seorang janda yang suaminya meninggal karena gempa juga. Mereka bertemu di pusat rehabilitasi korban gempa milik sebuah yayasan. Mungkin karena merasa senasib sepenanggungan ya? Apa yang bisa dilakukan dua hati yang kehilangan tempat berbagi selain saling berbagi?


Pernikahan Pak Sardi dan Bu Murti berlangsung khidmat. Sederhana dan tanpa pesta mengingat usia mereka yang sudah tidak muda. Semua yang hadir terutama anak cucu pasangan ini terlihat bahagia. Tapi...ada seseorang yang tidak kutemui di ruangan ini, juga di luar tadi. Lasmi! Ya, aku belum melihat anak bungsu Pak Sardi itu. Aku mengedarkan pandangan ke ruangan, juga melongok sejauh kepalaku bisa menjangkaunya. Tidak ada!

Aku baru saja hendak bertanya pada salah satu kerabat Pak Sardi ketika telingaku menangkap suara bisik-bisik di belakangku. Aku menajamkan telinga dan naluri berburu gossipku. Sepertinya mereka tetangga Pak Sardi. Dari bisik-bisik tetangga aku tahu kalau Lasmi sengaja pergi dari rumah sejak seminggu sebelum pernikahan itu berlangsung. Kata mereka Lasmi malu karena bapaknya yang sudah punya cucu itu menikah lagi.

Kau bilang malu, Lasmi? Kau belum pernah membaca cerpen "Anak-anakku Yang Tercinta"nya Emha ya? Oh, ya aku lupa, kata Bapakmu kau memang tidak suka membaca. Baiklah, aku bacakan sedikit untukmu : yang namanya hati itu tidaklah pernah tua. Ia tak pernah berusia berapa pun. Pikiran bisa menjadi matang atau tetap mentah, remaja atau dewasa. Tetapi hati hanya tahu membutuhkan hati yang lain sebagai sahabat hidupnya. Tak peduli berapa usianya.

Mungkin kau perlu waktu lama untuk mencernanya, tapi cobalah kau lihat laki-laki tua yang kujumpai ini. Kalau kau lewat jalan ini-dan tentu kau akan melewatinya karena jalan itu ada di dekat rumahmu-kau akan melihat laki-laki tua di dekat lampu merah di sebelah pos polisi itu. Lelaki itu memang tidak menadahkan tangannya untuk meminta-minta. Ia hanya diam di situ mengharapkan siapa saja yang berbelas kasih memberinya makanan atau sedikit uang. Aku hampir menangis ketika melihatnya malam-malam sehabis hujan, ia masih di tempat biasanya, mengunyah roti yang kuberikan dengan lahapnya, dengan giginya yang hampir habis. Mungkin ia kelaparan karena tidak ada orang yang mau berhujan-hujan memberinya makanan atau uang.

Kau tahu Lasmi, setiap kali jalan bareng teman-teman atau keluargaku dan melihat laki-laki tua itu, aku selalu menanyakan apa yg ada di benak mereka ketika melihat laki-laki itu, jawaban mereka hampir seragam.
"Kira-kira, dia masih punya keluarga nggak ya? Anak istrinya ke mana ya?" tanya Echy. Tumben kan, dia yang biasanya gak peduli sama penderitaan orang bisa bertanya dengan nada sedih yang tidak dibuat-buat gitu.
"Mungkin anak-anaknya terlalu sibuk dengan permasalahan hidup mereka masing-masing," tebak Alvin.
"Mama nggak ngebayangin akan mengalami masa tua seperti itu," kata Mama dengan mata berkaca-kaca.

Kau mungkin saat ini merasa masih bisa mengurus bapakmu, tapi Lasmi, kalau suatu saat nanti kau berkeluarga dan kau mulai sibuk dengan berbagai persoalan rumah tangga yang menghimpitmu, apa kau yakin masih bisa menemani bapakmu, menyediakan hatimu untuk mendengarkan suara hatinya? Dan jika sekarang ada seorang perempuan yang mau berbagi hati dengan Bapakmu, bukankah itu akan sedikit mengurangi bebanmu dan membuat Bapakmu lebih bahagia?

Aku tahu Lasmi, kau tidak akan menunggu sampai kau termakan usia atau merasakan kehilangan separuh hatimu untuk merenungkan ini semua.



* Refleksi 3 tahun gempa (di Yogya) dan 35 tahun usiaku (Hmm...tidak terlalu tua kan untuk mendamba sebuah hati sebagai tempat berbagi?)*

Minggu, 31 Mei 2009

TENTANG DERAJAT CINTA ITU

Aku pernah mendengar siaran seorang penyiar radio favoritku di Yogya (sayang sekali dia sudah tidak siaran), katanya-dia mengutip Kahlil Gibran-ada tiga derajat cinta. Yang pertama kau mencintai seseorang karena kelebihan orang itu, yang kedua kau mencintai seseorang meskipun dia punya kekurangan-artinya ada toleransi, dan yang terakhir dan ini derajat yang paling tinggi, kau tidak tahu kenapa mencintai seseorang, kau hanya merasa sayaaaang aja sama dia.

Berdasarkan tiga derajat itu aku mencoba mengamati orang-orang di sekitarku, termasuk derajat keberapa cinta mereka. Yang pertama menjadi korban pengamatanku adalah Najma (lebih tepatnya sih laki-laki di sekeliling Najma). Kalau kau para lelaki membaca deskripsiku tentang Najma, aku jamin kalian akan jatuh cinta setengah mati sama dia. Secara fisik dia cantik, bahkan sangat cantik menurutku, tinggi langsing dengan kulit putih mulus (awas, ada yang mulai ngiler tuh!), dia ramah dan sangat rendah hati, pintar menghargai diri sendiri dan orang lain, pandai membawa diri dan sangat bijaksana. Cowok mana coba yang tidak klepek-klepek berhadapan sama dia...coba tunjuk jari!

Dengan berbagai kelebihannya itu tidak heran banyak lelaki yang mendekatinya. Sejak menjadi sahabatnya waktu masih kuliah dulu, aku sampai tidak bisa menghitung berapa cowok yang sudah proklamasi sama dia, belum lagi yang merayu-rayu aku untuk nyomblangin, itu juga belum termasuk yang menjadi secret admirernya. Dan menurutku cowok-cowok itu termasuk pemilik derajat cinta yang pertama karena mereka kebanyakan tertarik pada Najma karena berbagai kelebihannya. Kalaupun akhirnya ada di antara mereka yang naik jadi derajat kedua atau ketiga aku tidak tahu karena nyatanya tidak ada satu pun di antara mereka yang diterima cintanya oleh Najma. Kau tahu kenapa? Karena Najma masih belum siap mengulang "tragedi cintanya" dengan Ical.

Menurutku, Ical itu cowok paling bodoh sedunia, ya kalau terlalu luas se-Yogya ajalah! Mati-matian dia pedekate ke Najma sampai akhirnya Najma menerima cintanya. Baru Jalan setahun, Ical sudah mulai berubah, sering marah-marah gak jelas dan cemburuannya minta ampun. Harusnya dia tahu dong ya, kalau perempuan sejenis Najma itu memang banyak penggemarnya. Setahuku Najma juga tidak suka tebar pesona, si pesona itu sendiri yang menebar ke mana-mana. Buktinya, kalau kita lagi jalan sering dia itu masih terheran-heran sendiri kalau banyak orang-terutama kaum Adam-yang memperhatikan dirinya (pokoknya beda bangetlah sama Echy yang suka tepe-tepe itu, dan juga beda sama aku yang kadang-kadang merasa sok kecakepan sendiri).
"Lin, gigiku ada seledrinya ya, kok orang itu ngeliatin aku sih?" tanya Najma suatu ketika waktu kita lagi makan di warung soto "Sabar Menanti".
"Bajuku aneh ya?" ini pertanyaan standar Najma kalau lagi jalan ke Mall dan banyak mata laki-laki memperhatikan dirinya.

Tentang Najma dan Ical nantilah suatu saat kalau aku sempat dan kalau aku ingat akan aku ceritakan di bagian tersendiri. Yang bisa aku ceritakan sekarang adalah, aku masih belum mengerti, di mana-mana orang putus itu biasanya karena ada salah satu pihak atau dua-duanya yang tidak bisa menerima kekurangan pasangannya. Lha ini, kenapa justru karena Ical tidak bisa menerima berbagai kelebihan Najma? Kalau begitu, termasuk derajat keberapakah cinta Ical, turun ke derajat nol kah? Kalau kasus yang beginian, kayaknya Kahlil Gibran gak ikut-ikutan deh!

Baiklah, kita akan lanjutkan pengamatanku pada pemilik derajat cinta kedua. Kalau yang ini, banyak banget contohnya, biasanya sih pasangan yang sudah berhasil melewati tahap penyesuaian karakter masing-masing. Mereka sudah bisa mentolerir kelemahan pasangannya, gak cuma mau terima enaknya aja.

Mmm...kayaknya paling enak mengamati orang yang punya banyak kebiasaan jelek kali ya? Kayak Beben misalnya (sori, Ben...bukannya balas dendam karena kebiasaanmu yang suka memojokkan aku!). Santi, mantan pacar Beben itu sebenarnya sudah bisa menerima Beben apa adanya, tapi Bebennya sendiri yang gak pengertian banget. Masak iya sih memanfaatkan "kepasrahan" Santi dengan bersikap seenaknya sendiri?

Kalau kebiasaan "amnesia" laki-laki seperti tidak ingat tanggal ulang tahun atau tanggal jadian sih sudah jadi rahasia umum. Lha kalau Beben itu amnesianya udah kebangetan. Pernah dia nganter Santi kuliah sore dan janji mau jemput, sampai malam dia belum jemput karena lagi asyik main PS sama temen-temennya. Kebayang kan, gimana deg-degannya santi harus nungguin di Fakultas Peternakan yang di UGM itu letaknya paling ujung dan deket sama lembah yang gelap dan sepi yang waktu itu terkenal rawan? Akhirnya Santi harus ngalah pulang minta anter temennya yang kos di Klebengan.

Kalau kejadian seperti itu hanya sekali dua kali sih gak masalah ya, tapi ternyata toleransi Santi juga ada batasnya. Terlalu sering mengalah dengan sikap Beben juga tidak baik untuk kelanjutan hubungan mereka. Kapan dong Beben akan belajar jadi laki-laki yang lebih bertangung jawab? Sementara Santi adalah tipe orang yang cenderung menghindari konflik, gak mau ribut karena masalah-masalah sepele.

Nah, Santi yang pernah mencapai derajat cinta kedua pun akhirnya rela turun ke derajat pertama, kebayang kan betapa susahnya mencapai derajat cinta ketiga? Tentang derajat yang ini, ah...siapa ya korban pengamatanku kali ini? Butuh pengamatan ekstra kayaknya, perlu jeli memperhatikan bahasa tubuh, perlu...

"Lin...kamu denger Mama nggak sih?" suara Mama lembut tapi cukup mengagetkan aku.
"Ya, Ma...?" tanyaku, merasa bersalah karena membiarkan Mama bicara sendiri, kayak di sinetron-sinetron itu.
"Jam segini Papa kok belum pulang ya? Mana hujan lagi...," kata Mama sambil berjalan ke arah jendela dan mengintip keluar dari balik gorden. Wajah cantiknya terlihat tegang.
"Kenapa gak ditelpon aja, Ma?"
"Sudah, tapi gak aktif...," suara Mama terdengar makin cemas.
"Kali aja baterenya abis, Ma, atau...jangan-jangan dijual Ma, HPnya, hi hi...," kataku berusaha menenangkan Mama.
"Kamu ini...," tegur Mama.

Tiba-tiba muncul ideku untuk interview Mama tentang perasaan cintanya sama Papa. Tentu saja setelah aku menelepon Mas Abiem, kakakku yang lagi keluar untuk lewat jalan yang biasa dilalui Papa, ya biar Mama sedikit tenang.

"Ma...Mama dulu kan dijodohin, kok bisa cinta banget gitu sih sama Papa?"

Mama memandangku lama sekali. Lalu ia tersenyum dan mengulurkan tangannya, isyarat agar aku mendekat ke pelukannya. Ini kebiasaannya kalau lagi pengen ngomong serius atau menceritakan masa lalu.

"Cinta itu seperti tanaman, inget kan kamu pernah nulis cerpen tentang itu? Semua tergantung kita, mau merawat tanaman itu atau membiarkannya kering lalu akhirnya mati," kata Mama mengingatkan aku.
"Ya, kalo itu sih semua orang juga tahu, Ma, dan hampir semua orang bisa melakukannya."
"Nah, kalo kebanyakan orang mendapatkan tanaman yang sudah tumbuh, Mama dan papa ibaratnya cuma dikasih biji, jadi kami harus sabar menunggu biji itu tumbuh, lalu merawatnya sampai akhirnya berbuah. Nah, ini salah satu buahnya yang manis," kata Mama sambil memelukku erat. Ada kehangatan yang mengalir di tubuhku, membuat hatiku dipenuhi perasaan haru.

Ah, Mama...pasti butuh usaha yang luar biasa untuk merawat cinta itu hingga makin dalam, sampai detik ini. Aku tidak yakin punya cukup energi untuk menumbuhkan dan merawat cinta seperti itu jika berada di posisi seperti kalian ketika menikah dulu.

Hampir terlelap aku di pelukan Mama ketika tiba-tiba di antara suara derasnya hujan terdengar suara motor di luar. Itu suara motor Mas Abiem! Mama bergegas keluar, aku menyusul di belakang. Papa dan Mas Abiem yang setengah basah langsung disambut pertanyaan betubi-tubi dari Mama. Dengan sabar Papa menjelaskan kalau mobilnya mogok di Jalan Kusumanegara, lalu batere HPnya memang habis,lalu bla bla bla...aku tidak berminat mendengarkan lagi karena aku sedang asyik mengamati wajah Mama yang lega tapi khawatir dengan keadaan Papa saat ini, takut tubuh yang mulai renta itu jadi sakit karena kehujanan. Aku juga suka melihat wajah Papa yang seakan merasa bersalah karena sudah membuat Mama khawatir. Ah, indahnya...

"Heh, bengong aja! Bikinin kopi panas napa?" tegur Mas Abiem.

Seperti kerbau dicocok pantatnya aku ngeloyor ke dapur. Di tempat ini lagi-lagi aku teringat kebersamaan Mama dan Papa. Ingat saat Mama sakit dan Papa dengan telaten membujuk dan menyuapi Mama.

Jadi ingat nasehat Bang Zaitun untuk Arai yang lagi jatuh cinta sama Zakiah di novel "Maryamah Karpov"nya Andrea Hirata.
"...cukup kau tunjukkan raut muka bahwa kau bersedia menyuapinya nanti jika ia sakit, bersedia menggendongnya ke kamar mandi jika ia sudah renta tak mampu berjalan. Bahwa kau, dengan segenap hatimu, bersedia mengatakan di depannya betapa jelitanya ia, meski wajahnya sudah keriput seperti jeruk purut, dan kau bersedia tetap berada di situ, tak ke mana, di sampingnya selalu, selama empat puluh tahun sekalipun..."

Mataku berkaca-kaca. Detik ini juga, suka atau tidak suka, aku umumkan : Mama Papaku adalah pemilik derajat cinta ketiga, dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi!

Jumat, 08 Mei 2009

MENIKAHI ORANG YANG DICINTAI, ATAU.....?

Rapat Geng Sabar Menanti kemaren malam memutuskan : aku harus datang ke pernikahan Reza! Hhh...benar-benar keputusan yang aneh! Bukannya aku keberatan datang ke pernikahan Reza, aku hanya sedikit merubah keputusanku untuk tidak datang pas hari H, tapi sebelum atau sesudahnya. Simpel kan? Tapi geng Sabar Menanti itu memang hobi merapatkan hal-hal gak penting, lalu mendiskusikan panjang kali lebar kali tinggi hingga menghasilkan keputusan yang tidak dapat diganggu gugat.

"Kamu tuh kepe-dean banget sih, emangnya berita kamu sama Reza itu sudah masuk infotainment? Orang sekantor kamu aja gak ada yang tau," cerca Beben waktu aku mengatakan alasanku tidak datang pas hari H karena tidak ingin jadi pusat perhatian.

Bukan tanpa alasan kalau aku mengkhawatirkan hal itu. Aku masih ingat waktu mengantar Neva sepupuku datang ke pernikahan Aswin, gebetan Neva. Ceritanya Neva itu ketahuan jatuh cinta berat sama Aswin, tapi ternyata Aswin sudah memutuskan untuk menikah sama Intan, cewek yang juga dikenal baik oleh Neva. Sebenarnya Neva cukup tabah menerima kenyataan (ya iyyaalah...buktinya ia mau datang ke pernikahan mereka kan?), tapi orang-orang di sekelilingnya itu lho yang justru bikin Neva termehek-mehek. Tatapan kasihan dari teman-teman dan sodara-sodara Aswin, belum lagi celetukan-celetukan dengan nada menyindir dari beberapa temannya. Orang lain itu memang kadang lebih hiperbolis dari kita yang punya masalah kan? Duuh, aku jadi kasihan juga sama Neva waktu itu.

"Tenang aja Lin, ntar aku bawain sapu tangan atau handuk sekalian kalo ntar kamu nangis, sama ember-embernya juga boleh, hi hi...," Echy cekikikan sendiri. Dia itu emang paling gak peka sama penderitaan orang.
"Sebenernya Alin itu gak senelangsa yang kalian pikir. Dia cuma mikir, apa yang membuat Reza menikahi Wita, dijodohin sama ortunya atau dia benar-benar mencintai perempuan itu ?" Najma angkat bicara. Aku mulai merasa adem kalo si Bijak itu sudah mulai berfatwa.
"Memang ada bedanya buat kamu, Reza menikahi orang yang dia cintai atau dia akan mencintai orang yang dia nikahi ?" tanya Alvin. Pertanyaannya langsung menohok ke ulu hatiku.
"Memangnya salah kalo Reza itu menikahi orang yang tidak, eh sori...belom ia cintai, sementara orang yang ia cintai tidak pernah peduli pada perasaannya ?" tanya Alvin lagi.
"Iya, orang yang dia cintai kan memang tidak peka, tapi Pekok !" sahut Beben. Pekok itu kata dari Bahasa Jawa yang artinya sama dengan bodoh, dan kata itu kasar sekali menurutku.
"Makanya jadi orang itu kalo jalan lihat ke depan gak usah kebanyakan noleh ke belakang, kesandung baru tau rasa kan? Kege-eran banget tuh si Nino kalo tau kamu tidak bisa melupakan dia!" kata Beben lagi. Biasa, lagaknya sok memberi nasehat tapi sebenarnya ia sedang menyalahkan atau menertawakan kebodohan orang lain.

Aku diam saja seperti pesakitan, berharap ada yang menyelamatkan aku dari berbagai kesaksian yang menyudutkanku.

"Sudahlah, Alin kan memang tidak tahu kalo Reza diam-diam mencintai dia? Mungkin saja Reza juga tidak terlalu jelas mengirimkan sinyal-sinyal cinta, tidak punya keberanian untuk menunjukkan perasaannya ?" bela Najma. Thanks God, dia selalu jadi Dewi Penyelamatku.

"Si Reza tidak berani menyatakan cintanya karena jelas-jelas ia tahu hati Alin cuma buat Nino seorang. Ibarat pintu, hati Alin itu sudah dikunci rapat, trus kuncinya ditaruh di kotak yang terkunci lalu kotak itu disimpan di lemari yang juga dikunci," Beben masih bersikeras menyalahkan aku. Hmm...lebay...lebay...
"Apa perlu kita panggil Reza ke sini buat klarifikasi, kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk menikah justru setelah ia proklamasi ke Alin ?" usul Echy serius, membuat semua menoleh keki ke arahnya.
"Echy Sayang...kalo kau mengkritisi atau menganalisa kebijakan pemerintah, kau tidak perlu memanggil presiden ke sini kan ?" kata Alvin sabar.
"Ya enggaklah, memangnya Reza ngundang presiden ke kawinannya? He he...ada-ada aja....!" Echy mengibaskan tangannya sambil tertawa geli. Beben ngakak habis. Alvin menggaruk-garuk kepalanya yang emang gatal (maklum dia baru saja mendarat waktu dikabari rapat koordinasi ini jadi belom sempat mandi).

"Vin, kamu mau tau, apa bedanya buat aku, Reza menikahi perempuan yang ia cintai atau dia akan mencintai perempuan yang ia nikahi?" tanyaku sambil menegakkan badan. Alvin juga menegakkan badan, pertanda ia siap mendengarkan pembelaanku.
"Kalo Reza menikah dengan perempuan yang ia cintai, setidaknya aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Tapi kalo Reza menikah bukan atas dasar cinta, aku akan merasa bersalah karena aku punya andil untuk membuat Reza berada di posisi itu," kataku.

Alvin diam, tangannya menggaruk-garuk dagu pertanda ia lagi kegatelan, eh...lagi mikir. Semuanya diam, aku berharap itu pertanda mereka bisa menerima pembelaanku dan mengijinkan aku tidak datang pas hari H di pernikahan Reza.

"Nah, itu dia! Hukum Karma sedang menimpa dirimu. Karena tidak mempedulikan perasaan Reza, kamu akan dihantui perasaan bersalah sepanjang hidupmu. Karena itu kau harus menebusnya dengan datang ke pernikahan Reza!" suara Beben memecah kesunyian.

Heran ya, ada orang yang begitu hobi menyalahkan orang yang sudah merasa dirinya bersalah? Terus, apa hubungannya coba, menebus dosa dengan datang ke pernikahan Reza ? Memangnya segampang itu "Hukum Karma" bisa dihilangkan ?

"Kalo menurutku sih, Lin, kamu memang harus datang ke pernikahan Reza. Bagaimanapun Reza juga sudah tau kalo kamu mulai jatuh cinta sama dia. Jangan sampe Reza juga merasa bersalah sama kamu, mungkin saja memang ada sebuah alasan yang tidak bisa ia elakkan," kata Najma sungguh-sungguh.

Nah, begini cara membujuk orang yang paling tepat! Ada alasan yang masuk akal, yang bikin aku bisa mikir baik buruknya keputusan yang akan aku ambil. Buktinya, aku langsung mengangguk takdzim pada petuah sahabatku ini.

"Nah, gitu dong...siapa tau ntar di kawinannya Reza kamu ketemu jodoh!" seru Echy girang. Hmm...ini lagi! Eh, tapi siapa tau ya, he he...*ngarep*


Aku memandangi lukisan bunga Flamboyan yang sudah kusempurnakan. Lukisan ini aku buat hanya semalam, tepatnya ketika aku menangis semalam (pinjam lagunya Audy, hiks hiks...)setelah pertemuanku dengan Reza. Sebenarnya lukisan itu hanya ingin aku pajang sendiri di kamar, tapi seminggu kemudian aku berubah pikiran, aku ingin memberikannya pada Reza sebagai kado pernikahan.

Setelah selesai membungkus lukisan itu tidak sadar tanganku meraih undangan pernikahan Reza. Berbagai pertanyaan kembali berkecamuk di benakku. Kenapa secepat itu Reza memutuskan untuk menikah? Apakah ia dijodohkan? Apakah ibunya seperti Tante Firza yang rajin mencarikan jodoh untuk anaknya? Najma bilang mungkin ada sebuah alasan, aku harap begitu.

Aku menarik napas panjang. Setidaknya ungkapan cinta Reza tempo hari sudah membuka pintu hatiku. Memang bukan Reza yang akan bersemayam di sana, tapi setidaknya pintu itu sudah terbuka dan aku tidak akan menutupnya kembali sebelum seseorang yang tulus mencintaiku memasukinya. (Hmmm...klise nggak sih ?)

More Than Wordsnya Extreme mendayu-dayu di HPku. Ada SMS masuk. Siapa sih yang insomnia kayak aku, lewat tengah malam masih SMS ini ? Males-malesan aku meraih HP di samping tempat tidur. SMS dari Reza!

Lin, aku bisa ngerti kl kamu tdk mau dtg ke pernikahanku.
Yg penting do'anya ya, semoga semuanya lancar, dan yg
lbh penting smg kamu cepet nyusul ya...

Aku tersenyum. Ah, Reza...kamu masih begitu peduli pada perasaanku. Cepat-cepat aku membalas SMS Reza.

Re, bgmn mgkn aku tdk mau dtg ke pernikahan seseorg yg sdh membuka pintu hatiku? Seseorang yg sdh bs membuat aku menertawakan kebodohanku sendiri? Kl bsk kau melihatku menangis, itu krn aku bahagia melihatmu di sana

Tidak tahu kenapa, aku betul-betul seperti merasakan kebahagiaan orang yang akan menemui peristiwa bahagia.

Kau tdk marah padaku kan? Aku yg pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaanku dr dl. kau tahu, tepat ktk aku mengatakan cinta padamu, saat itulah genap usiaku 31 th dan itu batas wkt yg kujanjikan pada Ibu utk melupakan kamu dan menerima perempuan pilihan ibuku.

Aku terhenyak. Jadi benar dugaan Najma, pasti ada alasan yang tidak terelakkan. Dan siapa yang sanggup mengelak pada janjinya sendiri, apalagi janji yang diucapkan di hadapan Sang Bunda? Aku tidak cukup mengenal Tante Marini-ibunya Reza- tapi aku tahu ia perempuan yang hebat, single parent yang berjuang keras mengentaskan keempat anaknya.

Re, kl aku marah, itu artinya aku marah sama Tuhan kan?
Kau pasti tahu, mencintai dan memiliki itu dua hal yg berbeda. Memang kt semua ingin memiliki seseorg yg kt cintai, tp kt tdk tahu skenario hdp kt kan ?
(cie...aku sok Yes ya? He he...)

Ada perasaan lega yg entah datang dari mana ketika aku membaca dan membalas SMS Reza.

Bkn sok Yes, km memang Yes kok, he he...(mumpung msh bs nggombal nih...)
Makasih Lin, aku yakin bisa mencintai perempuan yg akan jd milikku ini. Met tidur ya...bsk dandan yg cantik (he he...nggombal lagi!)

Aku senyum-senyum sendiri. Aku percaya Reza sungguh-sungguh. Meskipun tidak bisa menikah dengan perempuan yang ia cintai, aku yakin ia bisa mencintai Wita, perempuan yang besok ia nikahi.

Aku meletakkan kembali HP di meja, tapi mataku tidak mau juga terpejam. yang terpikir di benakku, kalau sampai beberapa tahun ke depan aku belum menemukan atau dipertemukan dengan laki-laki yang aku cintai, lalu Mamaku ketularan Tante Firza yang hobi mencarikan jodoh untuk anaknya, lalu aku harus menikah dengan laki-laki yang...hua...aku tidak sanggup membayangkan! Aku menutup mataku dengan bantal.

Extreme mendayu-dayu lagi. Reza, kamu tidak akan membatalkan pernikahan besok karena SMS kita tadi kan ? Please...kamu kan harus kelihatan segar besok pagi, kenapa masih juga terjaga sepagi ini?

Malas-malasan aku meraih HP. SMS dari Echy...! Kenapa lagi tuh anak jadi ikut-ikutan insomnia ? Dia kan paling gak bisa nahan kantuk, agak-agak sleepaholic malah.

Lin, aku lupa...sepatuku yg putih kan udah jelek bngt, pdhl bsk aku mo pake gaun baby pink sm tas putih yg kt beli kmrn? bsk msh smpt mampir gak ya nyari sepatu?

Aku langsung mematikan HP sebelum Echy menelponku (kebiasaannya yang gak sabaran itu adalah menelepon orang yang kelamaan balas SMS). Tiba-tiba penyakit insomniaku hilang dan aku langsung memeluk guling dengan syahdunya.

Rabu, 08 April 2009

INI JAMAN SITI NURHALIZA TAUUUK...!

"Lin, aku mo dikawinin!"
Aku diam saja, masih asyik dengan "Penalabirin" di laptopku.
"Lin...kamu denger nggak sih?" bentak Echy.
"Denger, jangan kawatir!" kataku tanpa mengalihkan mata dari blog Ezrasatya Mayo itu. Hmm...si Echy gak tau sih kalo baca blognya Ezra itu perlu konsentrasi tinggi. Untuk pemilik kecerdasan yang cuma rata-rata kayak aku ini musti berulang-ulang baca tulisan Ezra yang penuh analogi itu. Lagian bukan sekali ini aja Echy mau dikawinin, lihat saja pasti nanti ada perdebatan panjang soal perjodohan ini.
"Lin...kok kamu diem aja sih?" cerca Echy mulai bete.
"Terus aku musti ngapain? Tereak...? Oke, aku tereak nih, aaaaaaa....!"
Buk! Sebuah bantal mendarat dengan mulus di mukaku.
"Aliiin...serius dong...!" tereak Echy.
"Oke, sekarang cowok ganteng mana yang mau dikenalin sama kamu itu?" tanyaku sabar. Ngomong sama si Bontot ini emang musti ati-ati biar dia kagak nyolot melulu.
"Cowok ganteng? Emang kamu tau kalo dia ganteng? Kalo tajir iya, kamu tau kan selera Mamaku?" Tuh kan, udah dibaek-baekin masih nyolot juga?
Heran ya...gak ada capek-capeknya Tante Firza-Mamanya Echy-mencarikan calon suami untuk Echy, padahal tidak ada satupun yang berkenan di hati Tuan Putri itu. Kalo tidak salah hitung, dalam setahun belakangan ini saja sudah ada 4 laki-laki yang dikenalkan ke Echy. Banyak juga ya stock Tante Firza?
"Harusnya kamu bersyukur dong punya Mama kayak Tante Firza itu, mau bersusah payah mencarikan calon suami untuk kamu!"
"Please deh...ini kan bukan jaman Siti Nurbaya, ini jaman Siti Nurhaliza tauuuk...!"
"Apa bedanya? Dijodohin atau nggak, tetep ujung-ujungnya kawin kan? Jodoh tuh kayak maut, Chi...banyak jalannya, siapa tau jalan jodoh kamu ya diketemuin lewat Tante Firza?"
"Kamu kok malah ngebelain Mama sih?" Hmm...nyolot lagi, nyolot lagi! Kayaknya si Echy nih kalo nulis biodata, di kolom Hobby harus ditulis : NYOLOT!
"Bukan ngebelain, Chi. Faktanya mereka yang dijodohin gak berarti perkawinannya tidak bahagia kan? Jangan salah, Mamaku dulu juga dijodohin sama Papa, tapi kamu lihat kan mereka bisa memproduksi anak sekeren ini? Masih mesra lagi sampe sekarang, seingatku mereka gak pernah ribut, ya...kalo ribut-ribut kecil sih wajarlah."
"Tapi tetep aja judulnya dijodohin, jadi kita gak milih sendiri. Beli baju aja kita lebih enak pilih sendiri yang sesuai selera kita, gak dibeliin gitu aja," kata Echy gak mau kalah. Si keras kepala ini emang gak bisa dibantah, cocok deh jadi komandan, ya minimal komandan upacara lah !
"Lah, buktinya sampe sekarang gak bisa nyari sendiri?" aku melancarkan serangan yang kira-kira bikin dia skak mat.
"Bukan gak bisa, belom nemu yang cocok aja. Emang situ juga udah dapet pengganti Nino, belom juga kan?" cibir Echy. Gini nih kalo udah molai kalah debat, suka keluar dari konteks, biasa...jaga gengsi!
"Hellow...kita lagi ngomongin masalah siapa sih? Udahlah, temuin aja tuh calon suami kamu, siapa tau kali ini berjodoh, positif thinking aja," kataku akhirnya. Capek berdebat, dan sebenernya pengen cepet-cepet melanjutkan blogwalking yang tertunda.
"Lin, besok gak ada acara kan? Temenin ya ketemu sama Pramu...," Echy mulai merajuk. Jadwal harianku memang tertempel di depan meja kerja jadi Echy pasti tau kalo Sabtu ini aku tidak ada acara penting.
"Pramu? Siapa tuh?" tanyaku bingung.
"Ya cowok yang mau dikenalin itu, Cumi...!" tereak Echy gemas. Dia suka memanggilku Cumi alias Cucah Mikir kalo aku mulai gak konek ngobrol sama dia.
"Oh, namanya Pramu? Ngobrol dong dari tadi! Pasti nama panjangnya Pramuka!" kataku asal.
Tak! Sebiji kacang atom mendarat di kepalaku. Wah, molai KDRT nih...Kekerasan Di Rumah Tante Tinuk (He he...Tante Tinuk itu Mamaku!)
"Kenapa mesti ditemenin sih, dan kenapa musti aku? Sama Najma aja, atau Beben deh...," tolakku menawarkan dua anggota Geng Sabar Menanti yang kelihatannya tidak terlalu sibuk. Kalo Alvin sih keluar kota melulu.
"Najma kan ada workshop sampe Minggu? Kalo Beben, ogah...dia pasti akan menghina aku habis-habisan kalo ternyata tuh cowok ancur banget. Please...temenin ya?" Echy memegang tanganku seperti Pangeran meminta Sang Putri untuk menikah. Hmm, kalo sudah begini dia pasti akan mengeluarkan segala rayuannya, dan tentu saja sedikit sogokan.
"Aku beliin coklat yang banyak deh...kamu kan sekarang lagi suka banget sama coklat?" Tuuh kan...!
"Oke deh, aku temenin," kataku males-malesan. Bukan demi coklat ya, tapi demi ketenangan diriku sendiri, karena kalo aku belom bilang oke, Echy pasti akan nongkrongin aku sampe malam sambil terus merajuk-rajuk dan akan terus menaikkan tawarannya, kayak Kuis Deal or No Deal di tipi itu. Biasanya kalo Echy mulai merajuk-rajuk, aku sedikit jual mahal biar dia menaikkan tawarannya sampai ke tawaran yang paling menggiurkan,baru aku bilang : DEAL! Yah, sedikit oportunis sih, hi hi...

Sabtu sore yang cukup nyaman sebenarnya, mengingat Yogya yang sekarang makin panas, tapi entahlah aku tidak terlalu bersemangat menyambutnya. Mungkin karena aku harus menemani Echy ketemuan sama Pramu.Hal yang paling tidak aku sukai karena aku malas kalo aku harus memberikan opiniku tentang cowok itu. Menilai seseorang yang baru saja kita temui? Rasanya seperti jadi juri pemilihan Cover Boy atau Man of The Year. Menyebalkan!

Akhirnya kami The Ogah Girls (cewek ogah-ogahan maksudnya, he he...) berangkat ke Ambarukmo Plaza, tempat janjian Echy dan Pramu. Musik RAN yang menghentak-hentak di mobil Echy tidak mampu membangkitkan semangatku dan Echy. Apalagi waktu harus muter-muter di area parkir yang penuh, Echy sampe kumat hobi nyolotnya.
"Bantuin dong nyari si Pramuka. Nih...!" Echy mengangsurkan hapenya sebelum ia keluar dari mobil.

Ugh! Tante Firza itu nyusahin aja, kenapa selalu gak mau nunjukin foto cowok-cowok yang mau dikenalin ke Echy. Udah jaman Facebook ini, kenapa ya mereka gak disuruh kenalan dulu di situs pertemanan kayak gitu? Dipikir-pikir, asyik juga sih kenalan pake cara "tradisional" seperti ini? Deg-degannya lebih terasa, ya...tapi tetep aja nyusahin!

Aku membaca SMS dari Pramu keras-keras, langkah gontai Echy pun langsung menuju ke sebuah coffee shop di Amplaz. Kami celingak-celinguk mencari sosok yang digambarkan lewat SMS itu. Rambut cepak, pake jeans plus T-Shirt merah bertuliskan Manchester United, duduk di po...

Duk! Tiba-tiba Echy menjerit karena kakinya terantuk meja. Rupanya ia sudah berhasil menemukan Pramu dan matanya tidak sanggup berkedip. Aku juga berhenti membaca SMS karena cowok itu mendengar jeritan Echy dan langsung mendongakkan kepalanya yang sedari tadi asyik menekuri laptop.

Dug! Kali ini giliran jantungku yang berdegup kencang karena cowok yang kemungkinan besar Pramu itu berdiri sambil tersenyum. Aku menyenggol lengan Echy yang tiba-tiba kaku. Kami menghampiri cowok itu dan...duk! sekali lagi kaki Echy terantuk meja.
"Echy ya?" cowok itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya...kepadaku! Matanya yang tajam juga menatapku lekat-lekat.
"Oh...saya Alin, temennya Echy," aku menyambut uluran tangannya,"Ini...Echy! sekali lagi aku menyenggol Echy yang masih mematung dengan mulut sedikit terbuka.
"Hallo...Mas...Pramu ya?" sapa Echy dengan senyum manisnya. Sumpah, ini senyum terindah Echy yang pernah aku lihat!
"Oh...yang ini Echy?" Pramu sedikit menurunkan volume suaranya.Oh yang keluar dari mulutnya itu lho, nadanya gimanaaa gitu! Tapi kelihatannya Echy tidak terlalu memperhatikan, saking terpananya pada sosok Pramu.
"Alin temen kuliah Echy?" tanya Pramu kepadaku, dengan tatapan yang masih lekat. Aku jadi jengah!
"Bukan, sahabat sejak SMA, ya kan, Chi?" aku menoleh ke arah Echy yang masih terbengong-bengong. Echy cuma mengangguk-angguk kayak Dakocan.
"Wah, hebat ya kalian bisa bersahabat begitu lama. Alin kerja di ma...,"
"Eh, sori...hampir lupa! Aku kan mo nyari kado buat nikahannya Reza, Chi. Aku tinggal sebentar ya, ntar kalo dah selesai ngobrolnya, telpon aku! Ma'af Mas Pramu, titip Echy bentar ya...eh lama juga gak papa kok!" kataku buru-buru sebelum Echy menyadari kalo Pramu tidak terlalu memperhatikan dirinya.

Ughgh! Aku menghempaskan napas kuat-kuat setelah berlalu meninggalkan Echy dan Pramu. Kenapa si Pramuka itu jadi nanya-nanya tentang aku, bukannya dia tau kalo yang mo dijodohin sama dia itu Echy? Ah,bodo...yang penting sekarang aku bisa ngadem di Gramedia. Lumayan bisa numpang baca sambil nyari novel baru. Aku tadi bohong sama mereka, aku gak nyari kado karena aku udah nyiapin lukisan buat Reza.

"Ya ampun, Lin...akhirnya Mama bisa ngerti juga seleraku. Pramu itu gabungan antara selera Mama dan seleraku. Hmmm...perfect!" kata Echy ketika kami sudah di dalam mobil. Berbeda dengan ketika berangkat tadi, kali ini wajah Echy berseri-seri. Lihatlah gaya bicaranya yang ekspresif, lengkap dengan tangan dan tubuhnya yang bergoyang ke sana kemari. Mengingatkan aku pada gaya Chef perempuan seksi di tipi yang lagi naik daun.
"Kenapa ya gak dari kemaren-kemaren Mama ngenalin aku sama Pramu? Kalo dari tahun lalu, mungkin aku sama Pramu dah punya anak kali ya, he he...," Echy terkekeh-kekeh sendiri.
"Kayaknya bakal ada yang lulus nih dari Geng Sabar Menanti," kataku berlagak sedih.
"Yah, kita semua ntar juga pasti jadi alumni Geng Sabar Menanti kan?"
"Tapi kayaknya kemaren ada yang bilang ini Jaman Siti Nurhaliza, siapa ya yang bilang gitu...?" sindirku sambil pura-pura mikir.
"Alin, please... gak boleh liat orang seneng deh! Kalo sama Pramu sih, aku rela kembali ke Jaman Siti Nurbaya," kata Echy dengan senyum yang semakin lebar.

Aku ikut tersenyum, meskipun ada sesuatu pada diri Pramu yang aku khawatirkan, tapi aku tidak sanggup mengatakan opiniku pada Echy-apalagi ia tidak meminta seperti sebelum-sebelumnya kalo ia dikenalkan pada seseorang. Mungkin karena Echy begitu terpesona pada sosok Pramu. Aku tidak mau merusak kebahagiaan sahabatku ini, setidaknya untuk saat ini...

Jumat, 13 Maret 2009

HUJAN, COKLAT DAN FLAMBOYAN

Never ignore a person who
loves you...care for you...misses you...
Because, one day you may wake up
from your sleep and realize that
You have lost the moon while counting stars...

Aku memandang ke luar jendela yang basah oleh hujan. Meskipun pemandangan di luar tidak begitu jelas karena air hujan mengaburkannya, aku tetap memandanginya. Sambil menghirup bau tanah yang tersiram air hujan aku memejamkan mata. Sosok Reza pun hadir tanpa permisi.

"Aku suka sekali bau tanah yang basah karena hujan. Apalagi kalau habis musim kemarau panjang, aduh...seger banget baunya, khas banget...," begitu komentar Reza ketika kebetulan kami terjebak di depan kantor karena hujan yang tiba-tiba nyelonong tanpa ampun.

Aku hanya menatapnya sekilas. Ia tidak peduli, terus saja berceloteh tentang hujan.

"Heran ya, kenapa sih ada orang yang benci banget sama hujan? Yang katanya mengganggu aktifitaslah, bikin urusan nggak lancarlah. Memangnya dia nggak tahu kalau jauh di pedesaan sana para petani tuh ngarep banget hujan segera turun, biar tanamannya nggak keburu mati kekeringan?"

Aku menoleh lagi ke arahnya. Kali ini agak sedikit lama. Dari mana laki-laki ini tahu aku benci sama hujan? Aku yang terbiasa mengerjakan sesuatu dengan serba teratur dan cepat memang kadang merasa terganggu kalau tiba-tiba turun hujan.

"Eh, kamu benci juga ya sama hujan? Sori, bukan bermaksud menyinggung, cuma...nyindir, he he...," Reza terkekeh-kekeh sendiri menyadari aku tengah menatapnya setengah protes. Aku jadi salah tingkah.

"Memangnya kamu nggak takut pilek kalo sering kena air hujan?" tanyaku basa-basi. Tidak enak rasanya mengacuhkan Reza yang sedari tadi berusaha mengajakku ngobrol.

"Ya...kalo segalanya dipikir gak enaknya ya bakalan menderita. Takut pileklah, takut dinginlah, takut baju kotorlah. Coba deh kamu bayangin, ntar nih kita pulang, apalagi kalo pulang dalam keadaan basah karena kehujanan, terus kita mandi, ganti baju anget, bikin kopi panas sambil dengerin musik dan baca novel di kamar, aduh...nikmatnya," kata Reza sambil memejamkan matanya seolah ia benar-benar sedang menyeruput kopi panas di kamarnya.

Duuuh...dari mana lagi sih nih cowok tahu kalau aku suka minum kopi sama baca novel? Punya bakat jadi detektif kayaknya dia...oh bukan...bakat peramal atau dukun kayaknya.

Reza, lelaki yang dulu kakak kelasku sejak SMA sampai kuliah itu akhir-akhir ini memang memberi perhatian lebih kepadaku. Seingatku dulu ia tidak begitu, bahkan ngobrol panjang dengannya pun jarang kulakukan. Mungki karena dulu masih ada Nino, laki-laki yang hampir lima tahun menjadi kekasihku. Dan hampir lima tahun juga aku belum bisa menghapus kenangan manis bersamanya.

Mengingat Nino, selalu saja dada ini terasa sesak. Seandainya si Abang itu mau sedikit bersabar menungguku menyelesaikan kuliah, seandainya Uvi adik angkatan kami yang anak direktur perusahaan ternama itu tidak menawari Nino bekerja di salah satu kantor cabang milik ayahnya, dan seandainya Nino tidak mempertaruhkan janji setia kami dengan menerima cinta Uvi. Seandainya...ah...aku menahan air mataku agar tak tumpah seperti hujan sore itu yang tak kunjung reda.

Hujan masih enggan meninggalkan bumi yang haus. Mungkin ia tahu aku sedang ingin menikmatinya, seperti yang sering dilakukan Reza. Aku melirik coklat yang tadi sengaja aku beli di mini market dekat kantor. Kutimang-timang sebungkus coklat sambil merebahkan punggungku di sandaran tempat tidur. Sambil menikmati musik Kenny G yang bikin termehek-mehek, pelan-pelan kubuka bungkus coklat itu, mematahkannya sepotong dan memasukkannya ke mulut sambil memejamkan mata, menikmati legitnya yang bagi banyak perempuan dianggap musuh karena katanya bikin gendut. Reza meskipun bukan perempuan adalah penggemar berat-ia menyebutnya penikmat sejati-coklat.

Aku menjilati lumeran coklat yang memenuhi bibirku. Mungkin kalau ada yang melihat, dikiranya aku lagi casting atau syuting iklan coklat. Reza benar, coklat itu nikmat.

"Tahu nggak kenapa aku suka coklat? Katanya, orang yang suka coklat itu bisa menikmati hidup, ia tahu betul apa yang diinginkannya, apa yang bikin dia bahagia," kata Reza. Seperti biasanya, ia mengawali pembicaraan dengan pertanyaan yang lalu dijawabnya sendiri. Tidak peduli apakah aku akan menanggapinya.

"Eh, kamu nggak suka coklat ya? Sori, bukan bermaksud mengatakan dirimu tidak bisa menikmati hidup lho...," Reza pura-pura merasa bersalah. Aku tahu ia tengah berusaha mengajakku becanda.

Sekali lagi aku merasa tersindir. Aku yang oleh teman-temanku dikategorikan sebagai workaholic kelas berat memang terkesan tidak bisa menikmati hidup. Entahlah, mungkin karena aku jarang tertawa dan selalu pasang muka serius.

Hujan sudah mulai reda. Pemandangan di luar sedikit demi sedikit mulai terlihat jelas. Dan yang pertama menarik perhatianku adalah pohon flamboyan di dekat SMP yang dahannya sudah menjulang dan terlihat dari kamarku. Di musim kemarau bunganya yang merah dan rimbun terlihat jelas dari tempatku berdiri. Bertahun-tahun aku tidak pernah memperhatikannya. Kalau belakangan aku mulai suka memperhatikannya, itu juga karena Reza.

"Kenapa ya orang yang mempesona banyak orang dijuluki flamboyan? Mungkin karena flamboyan itu memang indah dan mempesona. Coba deh kamu perhatikan," kata Reza sambil menunjuk bunga flamboyan di dekat kantor yang waktu itu memang sedang mekar. Mau tidak mau aku ikut memperhatikannya.

"Memang indah kan? Pohonnya tinggi hingga orang yang menatapnya terkagum-kagum sekaligus gemas karena tidak bisa menyentuhnya. Kayak kamu kali ya...?" Reza menerawang masih memperhatikan flamboyan itu sementara aku memperhatikan Reza, menuntut penjelasan maksud kata-katanya.

"Seperti aku?" tanyaku, tidak tahan karena Reza tidak segera merespon keterkejutanku.
"Nggak sadar ya kalo kamu itu indah tapi tidak bisa disentuh?" tiba-tiba Reza menjadi serius.
"Bahkan sudah tidak ada Nino pun aku tidak bisa menyentuh hati kamu."
"Re...," aku menuntut penjelasan lebih karena Reza terdiam cukup lama. Reza masih diam.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta sama aku...," kataku lirih.
"Kalo iya memang kenapa? Aku jatuh cinta sama kamu jauh sebelum kita kenal Nino. Tapi...Nino memang luar biasa ya, bisa bertahta di hati perempuan seindah kamu, bahkan sampai sekarang...dan tidak tergantikan. Jadi ngiri, he he....," Reza tertawa sumbang, tapi ekspresi wajahnya tidak terlihat seperti seseorang yang terluka. Ia sudah kembali ceria, seperti tidak mengatakan sesuatu yang luar biasa.

Aku tercenung. Keterusterangan Reza membuatku serba salah, tidak tahu apa yang harus aku katakan. Bahkan aku tidak tahu apa yang seharusnya aku rasakan. Bahagia karena ada lelaki sebaik Reza menyatakan cinta kepadaku? Aku tidak yakin, karena sejujurnya aku belum merasa jatuh cinta pada lelaki ini. Mungkin kaget dan bingung lebih tepatnya karena aku tidak menyangka sudah begitu lama Reza menyimpan rasa cinta kepadaku sementara aku tidak menyadarinya sama sekali. Reza begitu pandai menyimpan perasaannya. Dan sekarang ia menyatakan perasaanya, terus terang tapi terkesan tidak menuntut jawaban. Sepertinya ia hanya ingin aku tahu bahwa ia mencintaiku, ya semacam Sekilas Info di Tipi itu...

Sejak Reza menyatakan perasaannya, ia justru menjauh dariku. Diam-diam aku mulai merindukannya. Aku kangen mendengar tawanya yang serenyah emping melinjo dan tentu saja celotehannya tentang apa saja yang selama ini luput dari perhatianku. Tentang hujan, coklat, flamboyan....

Tiga bulan sudah aku tidak mendengar obrolan Reza tentang apa saja. Hanya senyum manisnya yang menyapaku setiap berpapasan di kantor. Aku mulai merasa ada sesuatu yang hilang jika tidak bertemu dengannya. Mungkin benar kata orang, sesuatu atau seseorang baru terasa berharga ketika ia menjauh dari kita.

Dan ini adalah puncak kerinduanku pada Reza. Sambil memandangi pohon flamboyan yang tidak lagi berbunga aku tersenyum. Akhirnya aku bisa jatuh cinta lagi. Ya...aku yakin, aku telah jatuh cinta pada Reza. Aku tidak ingin membiarkan perasaan itu menguap begitu saja. Aku harus mengatakannya. Kebetulan tadi Reza meneleponku, ia ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin dikatakannya. Dan jika hal penting itu adalah ungkapan perasaan cinta seperti yang tiga bulan lalu ia katakan, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Di bawah pohon flamboyan yang daunnya telah rimbun menghijau aku menunggu Reza. Aku sengaja datang lebih awal, aku ingin melihat kedatangan lelaki itu. Dan lihatlah...ia begitu tampan dengan setelan jeans dan hem putih bergaris lengkap dengan senyumnya yang selalu mengembang. Ya Allah...aku baru menyadari betapa menariknya lelaki ini !

"Sori, nunggu lama ya?" sapa Reza.
"Enggak...Kamu cakep banget sih hari ini...," kataku lancar. Aku sendiri heran bagaimana kata-kata gombal itu bisa keluar dari mulutku. Orang jatuh cinta memang ajaib.
"Baru sadar ya?" Reza membelalakkan matanya yang bulat.
"Kamu mau ngomong apa sih, katanya penting?"
"Kamu dulu dong, kan kamu yang telepon duluan ngajak ketemu. Mau ngomong kangen sama aku ya?" godaku. Heran, kok aku jadi genit gini ya?

Reza memandangku lama sekali. Tiba-tiba ada mendung di wajah tampannya. Aku jadi salah tingkah, takut ucapanku telah menyinggung perasaannya. Dengan sangat hati-hati Reza mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah undangan pernikahan! Dan sekilas ada foto Reza kulihat di sana. Dan perempuan itu...tiba-tiba jantungku berdegup kencang.

"Lin, do'akan ya...dua minggu lagi aku menikah," Reza mengangsurkan undangan itu kepadaku. Dengan tangan bergetar aku menerimanya. Aku tidak ingin membacanya, aku tidak ingin tahu siapa calon istri Reza. Aku menatap Reza yang tertunduk dengan mata mulai basah. Aku juga merasa ada air bening mengalir dari kedua mataku.

"Kamu tidak ingin mendengar jawabanku atas apa yang pernah kamu katakan tiga bulan yang lalu, Re?" tanyaku hampir tidak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri?
Reza masih tertunduk. Matanya kini benar-benar basah.
"Jadi aku benar-benar sudah terlambat?" tanyaku hampir menyerupai bisikan.
"Ma'afkan aku, Lin. Rasanya aku memang harus realistis. Tanganku tidak sanggup menggapai flamboyan yang indah itu, aku cukup bahagia bisa menatapnya dari kejauhan, menikmati keindahannya dari tempatku berdiri. Toh, di sekelilingku banyak mawar, melati, anggrek yang dengan tanganku aku bisa meraihnya," kata Reza. Analoginya membuat hatiku semakin perih. Jangan ditanya bagaimana penyesalanku telah mengacuhkan perasaan Reza selama ini, hanya demi meyakinkan diri bahwa Reza lah lelaki yang pantas menggantikan posisi Nino di hatiku.

"Kamu lihat kan, flamboyan selalu berbunga di musim kemarau sementara daunnya berguguran, lalu bunga-bunga itu akan gugur dan daunnya mulai rimbun menghijau," Reza memandangi pohon flamboyan di atas kami dengan mata yang masih basah.
"Begitu pula seharusnya kamu, Lin. Aku yakin, masa-masa indah seperti ketika bersama Nino bisa kamu nikmati lagi. Flamboyan memang tidak berbunga sepanjang tahun, ia memang akan berguguran, tetapi ia pasti akan berbunga lagi, menampakkan keindahannya. Dan akan tetap menggemaskan tentu saja...," Reza tersenyum lebar, matanya sudah tidak basah lagi. Tapi tidak dengan mataku, titik-titik air semakin deras mengalir dari kedua mataku.

Aku tidak malu menangis di depan Reza. Rasa kehilangan ini jauh lebih hebat dari yang kurasakan ketika aku kehilangan Nino. Sekarang aku merasa, akulah flamboyan yang berguguran itu, yang tidak berharga dan akan mengering lalu terbang bersama angin. Atau terbuang dan membusuk bersama sampah-sampah yang lain. Rezalah flamboyan yang mempesona dan menggemaskan itu, dan aku hanya bisa menatap indahnya dari kejauhan.