"Kamu tuh kepe-dean banget sih, emangnya berita kamu sama Reza itu sudah masuk infotainment? Orang sekantor kamu aja gak ada yang tau," cerca Beben waktu aku mengatakan alasanku tidak datang pas hari H karena tidak ingin jadi pusat perhatian.
Bukan tanpa alasan kalau aku mengkhawatirkan hal itu. Aku masih ingat waktu mengantar Neva sepupuku datang ke pernikahan Aswin, gebetan Neva. Ceritanya Neva itu ketahuan jatuh cinta berat sama Aswin, tapi ternyata Aswin sudah memutuskan untuk menikah sama Intan, cewek yang juga dikenal baik oleh Neva. Sebenarnya Neva cukup tabah menerima kenyataan (ya iyyaalah...buktinya ia mau datang ke pernikahan mereka kan?), tapi orang-orang di sekelilingnya itu lho yang justru bikin Neva termehek-mehek. Tatapan kasihan dari teman-teman dan sodara-sodara Aswin, belum lagi celetukan-celetukan dengan nada menyindir dari beberapa temannya. Orang lain itu memang kadang lebih hiperbolis dari kita yang punya masalah kan? Duuh, aku jadi kasihan juga sama Neva waktu itu.
"Tenang aja Lin, ntar aku bawain sapu tangan atau handuk sekalian kalo ntar kamu nangis, sama ember-embernya juga boleh, hi hi...," Echy cekikikan sendiri. Dia itu emang paling gak peka sama penderitaan orang.
"Sebenernya Alin itu gak senelangsa yang kalian pikir. Dia cuma mikir, apa yang membuat Reza menikahi Wita, dijodohin sama ortunya atau dia benar-benar mencintai perempuan itu ?" Najma angkat bicara. Aku mulai merasa adem kalo si Bijak itu sudah mulai berfatwa.
"Memang ada bedanya buat kamu, Reza menikahi orang yang dia cintai atau dia akan mencintai orang yang dia nikahi ?" tanya Alvin. Pertanyaannya langsung menohok ke ulu hatiku.
"Memangnya salah kalo Reza itu menikahi orang yang tidak, eh sori...belom ia cintai, sementara orang yang ia cintai tidak pernah peduli pada perasaannya ?" tanya Alvin lagi.
"Iya, orang yang dia cintai kan memang tidak peka, tapi Pekok !" sahut Beben. Pekok itu kata dari Bahasa Jawa yang artinya sama dengan bodoh, dan kata itu kasar sekali menurutku.
"Makanya jadi orang itu kalo jalan lihat ke depan gak usah kebanyakan noleh ke belakang, kesandung baru tau rasa kan? Kege-eran banget tuh si Nino kalo tau kamu tidak bisa melupakan dia!" kata Beben lagi. Biasa, lagaknya sok memberi nasehat tapi sebenarnya ia sedang menyalahkan atau menertawakan kebodohan orang lain.
Aku diam saja seperti pesakitan, berharap ada yang menyelamatkan aku dari berbagai kesaksian yang menyudutkanku.
"Sudahlah, Alin kan memang tidak tahu kalo Reza diam-diam mencintai dia? Mungkin saja Reza juga tidak terlalu jelas mengirimkan sinyal-sinyal cinta, tidak punya keberanian untuk menunjukkan perasaannya ?" bela Najma. Thanks God, dia selalu jadi Dewi Penyelamatku.
"Si Reza tidak berani menyatakan cintanya karena jelas-jelas ia tahu hati Alin cuma buat Nino seorang. Ibarat pintu, hati Alin itu sudah dikunci rapat, trus kuncinya ditaruh di kotak yang terkunci lalu kotak itu disimpan di lemari yang juga dikunci," Beben masih bersikeras menyalahkan aku. Hmm...lebay...lebay...
"Apa perlu kita panggil Reza ke sini buat klarifikasi, kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk menikah justru setelah ia proklamasi ke Alin ?" usul Echy serius, membuat semua menoleh keki ke arahnya.
"Echy Sayang...kalo kau mengkritisi atau menganalisa kebijakan pemerintah, kau tidak perlu memanggil presiden ke sini kan ?" kata Alvin sabar.
"Ya enggaklah, memangnya Reza ngundang presiden ke kawinannya? He he...ada-ada aja....!" Echy mengibaskan tangannya sambil tertawa geli. Beben ngakak habis. Alvin menggaruk-garuk kepalanya yang emang gatal (maklum dia baru saja mendarat waktu dikabari rapat koordinasi ini jadi belom sempat mandi).
"Vin, kamu mau tau, apa bedanya buat aku, Reza menikahi perempuan yang ia cintai atau dia akan mencintai perempuan yang ia nikahi?" tanyaku sambil menegakkan badan. Alvin juga menegakkan badan, pertanda ia siap mendengarkan pembelaanku.
"Kalo Reza menikah dengan perempuan yang ia cintai, setidaknya aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Tapi kalo Reza menikah bukan atas dasar cinta, aku akan merasa bersalah karena aku punya andil untuk membuat Reza berada di posisi itu," kataku.
Alvin diam, tangannya menggaruk-garuk dagu pertanda ia lagi kegatelan, eh...lagi mikir. Semuanya diam, aku berharap itu pertanda mereka bisa menerima pembelaanku dan mengijinkan aku tidak datang pas hari H di pernikahan Reza.
"Nah, itu dia! Hukum Karma sedang menimpa dirimu. Karena tidak mempedulikan perasaan Reza, kamu akan dihantui perasaan bersalah sepanjang hidupmu. Karena itu kau harus menebusnya dengan datang ke pernikahan Reza!" suara Beben memecah kesunyian.
Heran ya, ada orang yang begitu hobi menyalahkan orang yang sudah merasa dirinya bersalah? Terus, apa hubungannya coba, menebus dosa dengan datang ke pernikahan Reza ? Memangnya segampang itu "Hukum Karma" bisa dihilangkan ?
"Kalo menurutku sih, Lin, kamu memang harus datang ke pernikahan Reza. Bagaimanapun Reza juga sudah tau kalo kamu mulai jatuh cinta sama dia. Jangan sampe Reza juga merasa bersalah sama kamu, mungkin saja memang ada sebuah alasan yang tidak bisa ia elakkan," kata Najma sungguh-sungguh.
Nah, begini cara membujuk orang yang paling tepat! Ada alasan yang masuk akal, yang bikin aku bisa mikir baik buruknya keputusan yang akan aku ambil. Buktinya, aku langsung mengangguk takdzim pada petuah sahabatku ini.
"Nah, gitu dong...siapa tau ntar di kawinannya Reza kamu ketemu jodoh!" seru Echy girang. Hmm...ini lagi! Eh, tapi siapa tau ya, he he...*ngarep*
Aku memandangi lukisan bunga Flamboyan yang sudah kusempurnakan. Lukisan ini aku buat hanya semalam, tepatnya ketika aku menangis semalam (pinjam lagunya Audy, hiks hiks...)setelah pertemuanku dengan Reza. Sebenarnya lukisan itu hanya ingin aku pajang sendiri di kamar, tapi seminggu kemudian aku berubah pikiran, aku ingin memberikannya pada Reza sebagai kado pernikahan.
Setelah selesai membungkus lukisan itu tidak sadar tanganku meraih undangan pernikahan Reza. Berbagai pertanyaan kembali berkecamuk di benakku. Kenapa secepat itu Reza memutuskan untuk menikah? Apakah ia dijodohkan? Apakah ibunya seperti Tante Firza yang rajin mencarikan jodoh untuk anaknya? Najma bilang mungkin ada sebuah alasan, aku harap begitu.
Aku menarik napas panjang. Setidaknya ungkapan cinta Reza tempo hari sudah membuka pintu hatiku. Memang bukan Reza yang akan bersemayam di sana, tapi setidaknya pintu itu sudah terbuka dan aku tidak akan menutupnya kembali sebelum seseorang yang tulus mencintaiku memasukinya. (Hmmm...klise nggak sih ?)
More Than Wordsnya Extreme mendayu-dayu di HPku. Ada SMS masuk. Siapa sih yang insomnia kayak aku, lewat tengah malam masih SMS ini ? Males-malesan aku meraih HP di samping tempat tidur. SMS dari Reza!
Lin, aku bisa ngerti kl kamu tdk mau dtg ke pernikahanku.
Yg penting do'anya ya, semoga semuanya lancar, dan yg
lbh penting smg kamu cepet nyusul ya...
Aku tersenyum. Ah, Reza...kamu masih begitu peduli pada perasaanku. Cepat-cepat aku membalas SMS Reza.
Re, bgmn mgkn aku tdk mau dtg ke pernikahan seseorg yg sdh membuka pintu hatiku? Seseorang yg sdh bs membuat aku menertawakan kebodohanku sendiri? Kl bsk kau melihatku menangis, itu krn aku bahagia melihatmu di sana
Tidak tahu kenapa, aku betul-betul seperti merasakan kebahagiaan orang yang akan menemui peristiwa bahagia.
Kau tdk marah padaku kan? Aku yg pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaanku dr dl. kau tahu, tepat ktk aku mengatakan cinta padamu, saat itulah genap usiaku 31 th dan itu batas wkt yg kujanjikan pada Ibu utk melupakan kamu dan menerima perempuan pilihan ibuku.
Aku terhenyak. Jadi benar dugaan Najma, pasti ada alasan yang tidak terelakkan. Dan siapa yang sanggup mengelak pada janjinya sendiri, apalagi janji yang diucapkan di hadapan Sang Bunda? Aku tidak cukup mengenal Tante Marini-ibunya Reza- tapi aku tahu ia perempuan yang hebat, single parent yang berjuang keras mengentaskan keempat anaknya.
Re, kl aku marah, itu artinya aku marah sama Tuhan kan?
Kau pasti tahu, mencintai dan memiliki itu dua hal yg berbeda. Memang kt semua ingin memiliki seseorg yg kt cintai, tp kt tdk tahu skenario hdp kt kan ?
(cie...aku sok Yes ya? He he...)
Ada perasaan lega yg entah datang dari mana ketika aku membaca dan membalas SMS Reza.
Bkn sok Yes, km memang Yes kok, he he...(mumpung msh bs nggombal nih...)
Makasih Lin, aku yakin bisa mencintai perempuan yg akan jd milikku ini. Met tidur ya...bsk dandan yg cantik (he he...nggombal lagi!)
Aku senyum-senyum sendiri. Aku percaya Reza sungguh-sungguh. Meskipun tidak bisa menikah dengan perempuan yang ia cintai, aku yakin ia bisa mencintai Wita, perempuan yang besok ia nikahi.
Aku meletakkan kembali HP di meja, tapi mataku tidak mau juga terpejam. yang terpikir di benakku, kalau sampai beberapa tahun ke depan aku belum menemukan atau dipertemukan dengan laki-laki yang aku cintai, lalu Mamaku ketularan Tante Firza yang hobi mencarikan jodoh untuk anaknya, lalu aku harus menikah dengan laki-laki yang...hua...aku tidak sanggup membayangkan! Aku menutup mataku dengan bantal.
Extreme mendayu-dayu lagi. Reza, kamu tidak akan membatalkan pernikahan besok karena SMS kita tadi kan ? Please...kamu kan harus kelihatan segar besok pagi, kenapa masih juga terjaga sepagi ini?
Malas-malasan aku meraih HP. SMS dari Echy...! Kenapa lagi tuh anak jadi ikut-ikutan insomnia ? Dia kan paling gak bisa nahan kantuk, agak-agak sleepaholic malah.
Lin, aku lupa...sepatuku yg putih kan udah jelek bngt, pdhl bsk aku mo pake gaun baby pink sm tas putih yg kt beli kmrn? bsk msh smpt mampir gak ya nyari sepatu?
Aku langsung mematikan HP sebelum Echy menelponku (kebiasaannya yang gak sabaran itu adalah menelepon orang yang kelamaan balas SMS). Tiba-tiba penyakit insomniaku hilang dan aku langsung memeluk guling dengan syahdunya.